Ternyata berduka adalah proses yang sibuk sekali,
Aku pikir isinya hanya bersedih, ternyata tidak.
Duka ternyata terdiri dari banyak spektrum emosi yang campur
aduk dan terus berganti tanpa sempat kamu proses satu per satu.
Memoar : 29 Juni 2025
pukul 17.11 WIB
Sayup-sayup suara Bapak masih terdengar di panggilan
video call ku dengan Ibu sore itu.
Di belakang ibu, bapak sedang turun dari motor Honda
Star kesayangannya, bergabung dengan kami di panggilan video. Bapak nampak
seperti biasanya, suara khas nya masih terdengar jelas, guratan wajahnya masih
terlihat terang namun sedikit sayu. Mungkin karena lelah.
seperti biasa beliau ini masih suka bercanda dan
mengingatkan ini itu karena aku masih baru di rantauan, khas bapak-bapak yang
suka ngomel takut anaknya kenapa-napa.
Aku sempat merajuk karena Bapak terlalu sering
ngomel-ngomel tapi ternyata itulah nanti yang akan aku rindukan dari bapak,
pada akhirnya. Sama sekali tidak ada yang aneh sore itu.
Namun yang tak pernah aku sadari waktu itu, muka
beliau sedikit pucat, senyumnya yang ramah itu masih terpancar nanar di depan
mataku, di depan layar handphone itu.
aku tidak akan mengira bahwa itu adalah panggilan
video terakhir dari Bapak. Hari itu adalah satu hari sebelum ia berpulang.
30 Juni 2025, Pukul 18.30 WIB
Ruang indekos 4 x 5 itu mendadak terasa berisik, ponselku
bergetar berkali-kali, menampilkan panggilan masuk dari kakak. beberapa kali
berdering, segera ku angkat.
tepat setelah aku angkat panggilan telfon itu yang aku
dengar bukan sapaan,
adalah suara tangis.
Tangis kakak memecah ruang hening malam itu, suaranya
parau dan terguncang. Dalam tangisannya yang semakin kacau, aku mencoba
memahami apa yang ia katakan. Baris demi baris kata yang ia ucapkan terangkai
sebuah kalimat yang tak pernah ingin aku dengar.
“Babe raono.”
Tepat setelah ia mengatakan itu, jam dinding di tembok
itu seakan berhenti. Hatiku seperti dihujani seribu paku yang membuatku
membatu. Tubuhku membeku, tatapanku kosong.
Tanganku berkeringat, sementara panggilan terus
berbunyi terdengar suara kakak yang masih terisak.
Kuambil kembali handphone ku yang sempat kujatuhkan.
“kita pulang ke jogja, ya Laili.” ucap suami kakak di
telfon.
“iya.” Adalah kata-kata terakhir yang masih bisa aku
ucapkan sebelum akhirnya tubuhku kembali membatu. Aku masih tidak percaya
dengan kejadian ini.
Tepat setelah jawaban itu panggilan telfon mati,
mengakhiri suara kakak yang masih tersedu, semakin jauh, semakin menyayat.
Ruangan kembali hening. Menyisakan aku yang masih
terduduk di sudut kamar itu, mematung. Cahaya lampu kamar redup, tapi hatiku
jauh lebih gelap dari apa pun. Setiap helai nafasku terasa berat, seperti ada
dinding tak kasatmata yang menghimpit dada. Air mata jatuh tanpa jeda, tanpa
suara. Membasahi tanganku yang kupeluk bersama lututku sendiri.
Seperti anak kecil yang kehilangan arah pulang,
merangkul tubuhku, memikul duka yang tak pernah kubayangkan datang secepat ini.
Dalam sunyi, aku masih menatap waktu yang berhenti
itu.
kehilangan tidak pernah datang dengan permisi, dengan
atau tanpa aba-aba.
“Be, aku mau pulang ke Jogja, tapi bukan ini alasan
untuk aku pulang.” lirihku.
Tangisku mereda, tapi sesungguhnya bukan
berhenti—hanya berganti bentuk. Dalam keheningan kamar itu, kenangan dengan
Babe satu per satu menyeruak. Semua memori itu berkelebat, menghantam dada
lebih keras dari apa pun.
Kugapai ponselku lagi. Kali ini aku menekan nomor ibu,
dan sambungan berubah menjadi panggilan bertiga bersama kakak. Begitu ibu
mengangkat, tidak ada kata-kata yang langsung terucap—hanya suara tangis kami
yang bersahutan, menyatu dalam duka yang sama.
Di sela isak itu, ibu bercerita Babe, katanya, sore
tadi terjatuh di rumah, tepat di dekat pintu menuju kamar mandi. Saat ibu
pulang dari masjid, ia menemukannya sudah terbaring tanpa daya.
Dengan panik, Babe sempat dibawa dengan ambulans.
Namun semesta terlalu menyanyagi Babe, Babe sudah tidak terselamatkan.
Malam itu, meski dipisahkan jarak, kami bertiga seolah
saling menggenggam dalam satu suara kehilangan yang sama.
Rencana kepulangan kami mendadak berantakan. Tiket
pesawat pagi itu sudah habis, tak tersisa satu pun. Kami mencari dengan panik,
berharap ada keajaiban, tapi layar ponsel hanya menampilkan satu pilihan:
penerbangan pukul lima sore, tanggal 1 Juli.
Ada rasa perih yang langsung menyesak di dada. Itu
berarti aku dan kakak tidak akan sempat melihat Babe untuk terakhir kalinya.
Pemakamannya akan selesai sebelum kami tiba.
Sedih sekali rasanya. Seperti ada ruang kosong yang
tiba-tiba membentang di antara aku dan dunia. Membayangkan gurat wajahnya untuk
terakhir kalinya—bukan di depan mataku, melainkan hanya lewat ingatan yang
perlahan kabur.
Aku ingin berlari, ingin terbang lebih cepat, ingin
merobek jarak yang memisahkan kami. Tapi yang ada hanya rasa tak berdaya,
menyerah pada waktu dan keadaan.
Hari itu aku benar-benar mengerti bahwa kehilangan
yang paling menyakitkan bukan hanya karena ditinggal pergi selamanya, tapi juga
ketika kita tak bisa mengucapkan selamat tinggal kepada orang yang kita anggap
sebagai dunia.
Malam itu terasa begitu panjang. Setelah panggilan
telepon berakhir, aku hanya duduk terpaku menatap langit-langit kamar, berusaha
meyakinkan diri bahwa semua ini nyata. Ponsel di genggaman terasa dingin,
seolah menyimpan jejak tangis kami bertiga yang tadi menyatu dalam panggilan.
Perlahan, aku mulai memasukkan beberapa baju ke dalam
tas. Gerakan tanganku gemetar, setiap lipatan baju terasa berat, seperti ada
batu yang menghimpit di dadaku. Di luar, suara malam tetap sama: sunyi, dingin,
tak peduli pada hancurnya duniaku.
Aku tahu, perjalanan pulang kali ini berbeda. Bukan
lagi pulang untuk liburan, bukan pulang untuk merayakan sesuatu. Aku pulang
untuk kehilangan—untuk melihat Babe dalam diamnya yang terakhir.
01 Juli 2025 13.00 WIB
Waktu berjalan lambat di bandara. Orang-orang
berlalu-lalang dengan wajah-wajah yang sibuk, sementara aku terduduk, tenggelam
dalam duka yang tak bisa kusembunyikan. Di tangan, ponselku terasa berat—lebih
berat dari biasanya, seakan menyimpan seluruh memori babe dalam hatiku.
Pukul satu siang, tepat saat pemakaman dimulai, aku
menelpon melalui panggilan video. Layar kecil itu menampakkan rumah yang ramai
oleh orang-orang yang melayat. Aku hanya bisa menyaksikan dari kejauhan, dari
kursi dingin bandara, bukan dari tanah kelahiran tempat seharusnya aku berdiri.
"hari ini tidak ada hal yang paling aku benci, kecuali jarak sialan ini."
Air mataku jatuh, membasahi masker yang kupakai. Aku
ingin berlari menembus layar itu, ingin berada di samping Babe untuk terakhir
kalinya. Tapi yang bisa kulakukan hanyalah menatap, sambil terisak, menyaksikan
jenazah Babe diturunkan perlahan ke dalam liang lahat.
“Masih banyak yang belum sempat aku sampaikan padamu.”
“Masih banyak belum sempat aku katakan padamu.”
Aku berduka di bandara, tempat orang-orang bertemu dan berpisah, tapi masih di satu alam yang sama. sedangkan perpisahanku dengan alam yang berbeda. Dengan suara pengumuman
penerbangan yang riuh bersahut di sekelilingku, sementara hatiku ingin hening
bersama tanah yang basah itu.
Pesawat akhirnya pesawat mendarat pukul sepuluh malam.
Langkahku terasa goyah saat keluar dari bandara, menuju mobil yang akan membawa
kami pulang. Hati berdebar, bukan karena perjalanan, tapi karena kenyataan
pahit yang menunggu di ujungnya.
Sesampainya di rumah, suasana ramai. Pelataran penuh
dengan kerabat, tetangga, dan orang-orang yang datang melayat. Lampu-lampu
terasa begitu terang, namun bagiku malam itu tetap gelap. Aku masuk dengan
langkah pelan, menembus kerumunan, menuju ruang tamu menemui ibuku yang kini
berubah menjadi ruang duka.
kami merengkuh ibu dalam pelukan. Tangis kami pecah bersamaan, tanpa perlu kata apa pun. Air mata mengalir, saling membasahi pundak kami, seakan menampung seluruh duka. Pelukan ibu begitu erat, seakan Ibu ingin memastikan kami benar-benar ada di sisinya.
Malam itu, dalam pelukan tanpa kata, aku tahu kami sama-sama memeluk kehilangan. Namun ada suara kecil di hati kecil kami yang berbisik: Babe sudah tenang di alam sana.
Kami harus belajar merelakan, sebab tangis yang terus kami jatuhkan hanya akan menjadi beban bagi kepergiannya. Babe sudah pulang, kembali pada Sang Maha Pemilik Hidup. Yang tersisa bagi kami adalah doa, yang semoga sampai sebagai cahaya penuntun di jalannya.
Babe sudah dimakamkan siang tadi. Yang tersisa hanyalah doa, air mata, dan kenangan. Aku duduk di sudut, menatap kosong, membiarkan tangis mengalir. Rasanya masih sulit menerima bahwa aku pulang untuk kehilangan.
kematian datang tiba-tiba, dan penyesalan selalu
datang terlambat.
Hidup terlalu singkat untuk menunda kasih sayang. Jika
masih ada yang bisa kita peluk hari ini, peluklah. Jika masih ada yang bisa
kita ucapkan, katakanlah. Karena esok bisa saja telah terlambat dan sia-sia.
Bahwa takdir dan kematian adalah dua hal yang tak bisa
ditawar. Ia datang dengan caranya sendiri, tanpa bertanya apakah kita sudah
siap atau belum. Yang bisa kita lakukan hanyalah belajar merelakan, dan
menyiapkan hati untuk menerima.
Katanya “perasaan itu Allah yang pergilirkan untuk
kita, maka nikmati semua rasa yang Allah titipkan, karena pada waktunya ia
akan tergulirkan.”
Maka mari kita terima kenyataan bahwa perasaan ini
ada, sekalipun melewatinya terasa tidak nyaman.
Hampa sekaligus sesak ini akan terurai dan kita akan
menemukan hikmahnya. Mungkin tidak hari ini, dan itu tidak mengapa.
Karena pada akhirnya, bukan tentang bagaimana kita
menolak kehilangan, tapi bagaimana kita berdamai dengannya.

Komentar
Posting Komentar