Pagi itu, di ruang keberangkatan Bandara, kursi-kursi panjang yang sudah diduduki oleh beberapa orang yang sibuk bermain gadget, termasuk aku menunggu keberangkatan pesawat.
Ada seorang laki-laki yang datang memakai baju Korsa tanpa nama dengan celana sobek-sobek panjang di bagian lutut dengan tas selempang khas lombok, membawa dua tas tenteng untuk diletakan di kabin pesawat, berkacamata, memakai earphone keluaran terbaru.
Dengan rambut sedang, potongan gaya Comma Hair ala-ala korea, wajah kotak sedikit tirus berkulit semi sawo matang dengan lesung pipi,
Tersenyum dan meminta izin untuk duduk di sampingku,
"Saya boleh duduk disini?"
Jadwal pesawat pagi ini begitu padat, sedangkan di bandara ini hanya ada 3 gate. Jam sudah menunjukkan waktu pukul 08.15 WIB, dan kebetulan pesawatku pukul 08.30 WIB. Kursi-kursi panjang itu sudah penuh, hanya tinggal beberapa kursi yang jarak dari orang satu dengan orang lainnya berdekatan.
"Silahkan." kataku.
Ini adalah kali pertama aku berada di bandara ini, Bandara Mahmud Baddarudin II Palembang dengan tujuanku ke Bandara YIA Kulonprogo.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Beberapa kali aku menengok jam tanganku menunjukkan keberangkatanku sebentar lagi, namun sedari tadi belum ada panggilan dari Bandara. Kebetulan laki-laki tadi yang duduk disampingku itu membawa tiket pesawat yang ia pegang di tangan kirinya, tangan kanannya sibuk bermain handphone.
Lalu aku buru-buru mengeluarkan tiket yang ada di sakuku untuk memastikan sesuatu, dengan reflek aku bertanya kepadanya,
"Mas, tujuan kemana?"
"Ke Jogja, Mba."
"Ooh iya kah?" (Nah sudah kuduga, sama!)
"Saya juga... Tapi disini memang tidak ada tulisan gate nya ya mas?" Aku menunjukkan tiket pesawatku kepadanya. Laki-Laki itu mengecek tiketnya dan mendekatkannya dengan tiketku untuk melihat apakah jadwal keberangkatan kami sama.
"Iya mba ternyata memang tidak ada, nanti ditunggu panggilan pesawatnya ya. Kebetulan jadwal kita sama." katanya dengan nada suara yang tenang.
Aku yang yang tadi sedikit panik menjadi sedikit tenang lalu menanggapi,
"Ooh, gitu, oke terima kasih ya hehe, Saya baru pertama kali kesini soalnya." jawabku dengan sedikit canggung karena kali pertama bicara dengan orang asing.
Sambil tersenyum ia bertanya lagi kepadaku,
"Mba asli Jogja ya?"
"Iya." Jawabku pendek.
"Ngapain kesini, Mba?" ia bertanya lagi, kali ini ia memperhatikan aku.
"Ada kerjaan disini." aku jawab seadanya karena kami memang baru bertemu, dengan sedikit eye contact diantara kami.
"Ooh, iya hehe" laki-laki itu tersenyum memandangku, kami saling bertatapan (lagi).
Aneh.
Aku kira itu adalah obrolan terakhir kami karena memang masing-masing dari kami sibuk bermain gadget, tapi ternyata tidak sampai situ.
Dengan lebih antusias ia bertanya lagi,
"Mba, mau pulang ke Jogja ya berarti?"
"Iya, aku mau pulang wkwk, soalnya rumahku disana." Jawabku dengan sedikit rileks karena sudah beberapa kali berbicara dengannya.
"Oiya? Jogjanya dimana?"
"Saya di Bantul, Mas"
"Bantul nya mana?" Tanyanya penasaran.
(Aduh kenapa dia tanya terus ya) batinku.
"Mas, ini bukan inspeksi imigran kan? Saya warga Bantul asli, wkwk." dengan sedikit kesal aku menanggapinya.
lalu ia menjawab,
"oh, maaf ya saya banyak tanya hehe." sambil menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal, ia tersenyum ke arahku. Parah, manis juga senyumnya ditambah dengan lesung pipinya itu.
aku menanggapi pertanyaan itu dengan senyuman juga, agak terpaksa. Lalu lagi lagi dia menoleh ke arahku dan mengatakan sesuatu.
"Kantor saya juga ada di Bantul, ada di Sewon kalau tahu." Jawabnya dengan nada lembut.
"oh iya kah? deket dong itu sama rumah saya, wkwkw. Kalau masnya tinggal dimana?" Kali ini aku yang bertanya penasaran.
"Saya di Godean."
"Owalah Godean, ya.. ya, hehe"
Seperti itulah obrolan kami yang semakin lama semakin mengalir kesana kemari karena kami sama-sama dari Jogja. Sampai di suatu waktu aku menyadari bahwa aku lupa menanyakan hal penting yang tidak ada di obrolan kami.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Mba udah nyobain apa aja di Palembang?" ia bertanya dengan lebih memperhatikan aku kali ini.
"hm.. Apa ya, pempek? Pindang? Oh iya kemarin saya sempet nyobain pempek Candy itu tapi agak mahal ya, wkwkwk"
Ia tersenyum lagi, kalau ada lomba tersenyum manis, aku yakin mas-mas ini salah satu juaranya,
"Iya mba, ga nyobain pempek Vico kemarin? Itu juga terkenal. Nanti nih ya, kalau mbaknya pakai bagasi pasti pas mau ngambil bagasi itu, penuhlah itu pempek semua, wkwkw." Kali ini tawanya lepas.
"Iya saya pakai bagasi, wkwkw." Jawabku juga dengan tertawa karena ceritanya yang se-antusias itu.
"Mba nanti naik apa setelah di Bandara?"
"Saya naik Kereta Bandara."
"Oiya? Saya juga, pukul berapa mba? Saya pukul 11.00 WIB nanti." sambil ia lihat jam tangannya
"Saya pukul 12.30 WIB."
"Lama banget Mba nanti nunggu nya. Sekitar dua jam nanti." Aku menyadari ada sedikit rasa kecewa di mimik wajahnya. Lalu aku menjawab,
"Iya, Mas. Gapapa nanti saya kan juga ambil bagasi, sedangkan masnya ga pakai bagasi."
"Iya juga sih ya." Jawabnya dengan sedikit kecewa.
Obrolan demi obrolan kami sambung menyambung. Ternyata se-klop itu pembicaraan ini.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Orang-orang di sekitar kami belalu lalang menuju gate penerbangan masing-masing.
Aku mengecek jam di jam tanganku. Waktu sudah menunjukkan pukul 08.25 WIB, seharusnya lima menit lagi kami sudah masuk ke dalam pesawat. Aku yang khawatir menanyakan kembali kepada laki-laki tersebut terkait keberangkatan kami.
"Mas ini memang belum ada pemanggilan ya?"
"Sebentar saya tanya ke petugas dulu ya, tolong tungguin tas saya." ia mengecek jam di tangannya dan tersenyum lagi lalu pergi menanyakan ke petugas bandara yang agak jauh dari tempat duduk kami.
aku hanya mengangguk.
Sejenak aku berpikir apakah semudah itu ia mempercayakan tas bawaannya itu kepada seseorang yang baru ia kenal di Bandara ini. Bahkan kalau-kalau apa yang ada di dalam tas ini aku curi ia tidak akan tahu. Tapi aku juga tidak akan begitu sih.
"astaga apa yang aku pikirkan" batinku.
Di tengah lamunanku itu aku aku tersadar ketika laki-laki yang jauh itu pelan-pelan mendekat ke tempat duduk kami tadi dan kembali menghampiriku.
"Mbak.., yuk, sudah dipanggil." panggilnya dengan suara lembut itu.
"Oh, iya!" Aku buru-buru mengambil tas dan barang bawaanku yang kebetulan lumayan banyak itu.
Karena mungkin ia tidak tega melihat aku yang berbadan mungil ini membawa banyak barang bawaan ia kembali menatapku dan menawarkan bantuan. Karena kami sudah berdiri, terlihat kontras perbedaan tinggi kami. Ternyata ia setinggi itu karena aku harus mendongakkan kepalaku untuk menatapnya.
"Tas yang ini saya bantu bawa ya? tenang saja gak akan saya curi, wkwk." Jawabnya. (Aduh, dia tersenyum lagi), batinku.
Tanpa menunggu aku menjawab, ia membawakan tasku di bahu kanannya. padahal dia membawa tas juga.
sejenak ku berpikir,
ada apa dengan orang satu ini, kenapa semesta mengizinkanku bertemu dengan orang ini.
softspoken? iya, act of sercive? di borong juga.
senyum manisnya? hadeh ga usah di tanya lagi.
Ya Tuhan tolong selamatkan hatiku. Lemah banget kalau ada yang begini hadeh.
Dengan Selop Miniso warna hijau pastel dan kaus kaki warna senada ia berlalu duluan di depanku.
Sadar karena aku tidak ada di belakangnya, ia menengok ke kanan, kiri, dan kebelakang mencariku. Melihatku di belakangnya agak jauh, ia kemudian melambaikan tangan tangan dan berkata,
"Mbak, ayok.. udah mau berangkat lho ini pesawatnya." Ia berkata sambil tersenyum. Seperti kataku tadi, kalau ada lomba senyum paling manis, aku yakin mas-mas satu ini juaranya.
Suaranya menyadarkan lamunanku.
"Oh, iya iya, wait.." Aku berlalu mengekornya.
"Mbak yang di depan aja, Ladies First, wkwk"
"Baiklah, hehe"
"Mas, itu tas saya biar saya aja yang bawa. Itu kan Masnya bawa tas dua juga, apa ga berat?"
"Tenang, wes kamu jalan aja, barang bawaanku ga ada apa-apanya ini." Jawabnya dengan tenang.
Ia berusaha menyamai langkah kakiku yang pendek dengan kakinya yang segenter itu.
kami menuju gate 1 ke pesawat kami. Lorong gate ini lumayan panjang.
Orang-orang bergerak cepat menuju ke pesawat dan mencari nomor kursi mereka. berdesak-desakan di antara penumpang satu dengan yang lainnya.
Tidak seperti penumpang lain yang terburu-buru kami berjalan santai melewati lorong-lorong ini, tubuh kami seperti sadar bahwa ketika sudah sampai di YIA nanti kami tidak akan bertemu lagi.
"Mba kuliahnya angkatan tahun berapa?"
"Saya angkatan tahun 2019, Masnya berapa?"
"Saya angkatan 2017."
"Mba suka nonton film apa?" tiba-tiba dia bertanya dan aku refleks menjawab.
"Random banget yang ini pertanyaan nya, wkwk."
"Hehe." ia kembali menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Karena tidak tega, aku menjawab pertanyaannya.
"Aku suka film Studio Ghibli."
Matanya tiba-tiba melotot dan berbinar.
"Seriuss?, Spirited Away? Totoro? Howl: Moving Castle?" Ia menjawab dengan antusias.
"Iya sebutin aja semuanya, wkwk."
Kami tertawa lepas.
"Saya sudah nonton itu semua filmnya, yang The Boy and the Heron itu udah nonton juga, Mba?"
"Sudah dong, kemarin nonton di bioskop itu."
"Lah, iya saya juga, kok ga ketemu ya kita waktu itu."
"hahaha, yakali, Mas. Orang baru kenal."
"Ya kan siapa tau, wkwk."
kami kembali tertawa.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sayangnya tidak seperti film-film, genre romance pada umumnya, yang bisa kebetulan bersampingan tempat duduk di pesawat, kebetulan cerita ini tidak terukir begitu.
sadar sudah sampai di depan pintu pesawat, laki-laki itu menanyakan nomor kursiku,
"Mba nomor kursi berapa?"
"Saya di 22D, masnya berapa?"
"Saya di 20C, di depan. nanti saya bantu dulu taruh tasnya di kabin, ya?"
lagi-lagi, tanpa diminta Ia lebih dulu menawarkan bantuan. Dibawakanlah tasku menuju kabin pesawat tepat diatasku. Karena ia tinggi, sangat mudah bagi Ia menjangkau kabin itu dan membantu menaruh kedua tas dan barang-barangku di kabin pesawat.
"Makasih ya, Mas."
Wajahnya memerah, lalu ia menjawab
"Iya sama-sama, itu sabuknya di pakai ya, nanti kalo ada butuh bantuan apa-apa bilang aja."
Laki-laki itu lalu berlalu ke depan menuju tempat duduknya di pesawat sembari earphone nya lalu duduk dengan tenang, memijat-mijat pilihan daftar lagu di handphone nya.
Aku hanya mengangguk menjawabnya.. melamun dan berfikir kembali sejenak.
wait.. apa yang dia katakan tadi? otakku yang lemot ini seakan sedang mencerna soal matematika yang tidak bisa aku kerjakan.
dia menyuruhku ntuk memakai sabuk? kenapa? kenapa dia se peduli itu dengan orang asing yang baru kenal ini? lagi, dia bilang kalau ada butuh bantuan ke dia akunya di suruh bilang? hah? serius? ada ya orang kayak gitu di dunia ini?
Sadar aku melamun, ada seseorang penumpang di depan yang menoleh ke belakang memperhatikanku yang sedang melamun mencerna kata demi kata tadi. Benar sekali, laki-laki itu kembali menatapku dan tersenyum. Aku mengangguk membalasnya sambil tersenyum karir.
Kru penerbangan memperagakan bagaimana menggunakan peralatan keselamatan sebelum keberangkatan pesawat. Mereka menujukkan cara menggunkan jaket pelampung, menjelaskan lokasi penempatan dan menunjukan cara menggunakan masker oksigen.
Tanpa sadar, aku memperhatikan laki-laki itu menyimak dengan seksama bagaiman kru penerbangan memperagakan tahap demi tahap hingga selesai. Lalu kembali menggunakan earphone nya setelah awak kabin tersebut selesai memperagakan peralatan keselamatan. Tak lama kemudian Ia tertidur padahal pesawat belum take off.
Penerbangan satu setengah jam yang membosankan. Aku membawa buku yang yang aku bawa untuk penerbangan ini. Membacanya halaman demi halaman dan aku mulai mengantuk juga. Lalu aku menyusul tertidur.
Aku terbangun ketika awak kabin mengumumkan bahwa sebentar lagi pesawat akan mendarat.
Lagi-lagi, laki-laki yang baru saja aku kenal di bandara tadi menoleh ke belalakang menatap mataku, memastikan bahwa aku masih duduk di kursi itu, memastikan bahwa teman perjalanannya baik-baik saja.
Ia tersenyum, lagi. Sudah kukatakan berkali kali kalau ada lomba tersenyum paling manis, Ia jadi salah satu juaranya.
Otakku yang liar ini bisa bisanya berpikir apakah orang ini adalah porter gadungan yang nanti akan minta bayaran di akhir karena sudah membawakan barang-barangku, apakah aku akan di culik dan dibawa ke tukang donor organ di daerah sini, belum lagi biaya mengobrol dengannya, obrolan yang nyambung itu. hadeh.
aku segera menghilangkan pikiran-pikiran buruk itu.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Setelah awak kabin mengumumkan bahwa kami sudah bisa keluar dari pesawat, para penumpang segera berbaris keluar dan berdesakan mengambil tas di atas kabin masing-masing.
sadar bahwa aku yang kecil nan mungil ini paling tidak bisa berdesak desakan, laki-laki tinggi itu dengan sukarela mengambilkan tasku yang ada di atas. Aku tahu tas keramat warna pink itu berat karena ada banyak isi oleh-oleh di dalamnya. belum lagi posisinya yang sangat tidak strategis pasti sulit untuk diambil.
tapi seperti capit robot yang bergerak otomatis, tangannya dengan ahli mengambil tasku.
sebelum membawa tasku, laki-laki itu menengok ke arahku dengan menggerakkan telunjuknya ke tas pink itu, meminta izin untuk di bawanya keluar dari pesawat.
karena sangat ramai dan berdesak-desakkan, laki-laki itu meminta izin untuk turun duluan karena tidak enak dengan penumpang lain yang ada di belakangnya seandainya ia menunggu ku untuk turun bersamanya.
aku mengisyarat kan tanda “OK” dengan tanganku, dan berkata
“jangan di curi, ya. awass.” aku mengepalkan tanganku kepadanya.
laki laki itu tersenyum (lagi) lalu turun dengan membawa tas warna pink itu. Ya, laki-laki tinggi yang nampak gagah itu membawa tas warna pink stabilo dengan hiasan bunga-bunga. Lucu sekali kalau di ingat-ingat lagi.
setelah agak sepi, aku mulai pelan-pelan turun dari pesawat itu. Keluar dari pintu, aku di sambut dengan senyuman manis laki laki itu, lalu dia berkata
“Mari Mba..”
“mari kemana?" tanyaku.
“ke tempat pengambilan bagasi lah.” jawabnya antusias.
“lah, masnya kan gaada bagasi." dengan bingung aku menjawabnya.
“lah, iya juga ya."
kami tertawa.
“gapapa mba, ini tasnya berat sekali lho kalo di bawa sendiri.”
“iya gapapa, lagipula itu kan tasku, itu yang ada di dalamnya juga barang-barangku. tapi sebentar, ini masnya ga minta bayar kan karena udah dibawain barang-barangku ini”
Ia tertawa
“Mba pikir aku apa?, porter ya?”
“wkwkw, lha dari tadi baik banget.”
“yaudah bentar aku ambilkan troli ya mba biar ga berat-berat amat ini tasnya”
sebelum aku menjawab, Ia sudah berlalu mencarikan troli untuk di taruhnya tasku agar tidak berat, aku menyusulnya sebisaku agar dia tidak terlalu jauh menyusulku.
“taruh ke sini Mba tasnya.” Secepat kilat itu ia kembali.
dengan patuh aku menaruh tas ku satu persatu dan mulai mendorong tasku dengan troli menuju tempat pengambilan bagasi.
“makasih ya.” ucapku
setelah memastikan aku bisa membawa semua barang bawaanku, semesta mengisyaratkan sesuatu yang aku lihat dari mimik wajah dan ia yang sedari tadi melihat jam di tangannya. sebelum aku menebaknya laki-laki itu berkata kepadaku,
“Mba, aku harap kita punya lebih banyak waktu, tapi jadwal kereta bandaraku sebentar lagi, maaf ya mba aku ga bisa nemenin sampai pengambilan bagasinya selesai.” Ia berkata dengan wajah yang teramat kecewa.
lalu aku menjawabnya,
“Iya, gapapa banget, makasih ya saya merasa terbantu sekali dari di Palembang sampai Jogja ini dengan selamat padahal aku sama sekali bukan tanggung jawabmu.”
matanya berkaca-kaca. sambil kembali melihat jam yang ada di tangannya
“Mba, saya duluan ya, hati-hati ya mba nanti semoga sampai rumah dengan selamat.”
“Iya Mas, salam kenal juga ya.hati-hati juga yaa.” jawabku.
ia menundukkan kepala dan tersenyum getir lalu pergi menuju arah kereta bandaranya yang akan segera berangkat.
setelah ia berlalu, aku tunggu Ia sampai punggungnya menghilang di keramaian. Ia menoleh ke belakang ke arahku untuk terakhir kalinya dan melambaikan tangan.
aku membalas lambaian tangannya.
lalu ia berlalu. dan menghilang.
pertemuan ini sudah selesai. pertemuan yang di rangkai oleh Tuhan untuk menemani perjalananku, meringankan perjalananku yang ku pikir akan berat jika aku lalui sendiri.
sampai pada akhirnya aku teringat satu pertanyaan penting di awal tadi, dari ratusan pertanyaan yang sudah saling kami lontarkan tadi, aku lupa untuk menanyakan namanya, kami bahkan tidak bertukar kontak atau sekedar follow instagram. Orang itu sekarang sudah benar-benar pergi.
aku lupa untuk menceritakan bahwa di perjalanan ini aku sama sekali tidak melepas maskerku, jadi bahkan ia tidak akan mengenali wajahku. Hanya tahu bahwa aku orang Bantul asli wkwk.
untuk mengingat ini, aku namai saja orang ini Mr. R, Mr. Rangerti karena aku tidak pernah tahu namanya wkwk.
sampai pada waktu itu aku sadar bahwa,
“beberapa orang yang di hadirkan dalam hidup, hanya untuk menemani perjalanan kita sejenak di hari-hari kita yang buruk.”
kebaikan tidak mudah untuk di lupakan. Mungkin Ia sudah lupa mengenai hal baik yang sudah ia lakukan ini, tapi bagiku, kebaikan orang ini tidak akan mudah untuk aku lupakan.
aku sangat bersyukur karena ia hadir dan juga pergi, karena cerita kami sudah selesai. Ia hadir dengan baik-baik, dan pergi dengan baik -baik pula.
terima kasih pula saya ucapkan kepada orang orang yang bersedia membantu meringankan perjalanan orang-orang seperti kami yang melakukan perjalanan sendiri entah itu di bandara, di stasiun atau di tempat umum lainnya tanpa diminta dan dengan ikhlas. Pun tanpa melihat rupa.
terima kasih sudah berkenan membaca :)
Komentar
Posting Komentar